“We shape our buildings; thereafter, they shape us.”— Winston Churchill Pertengahan 2024, ada satu momen yang mengubah cara saya memandang ruang kantor. Bukan dari buku. Bukan dari seminar. Dari keluhan anak buah saya sendiri. Seorang tim engineering di PT Sarana Abadi Raya mengadu ke saya: “Pak, kok betah di rumah ya? Di kantor sumpek. AC […]
Tag Archives: hospitality-touch
Setiap kali sebuah properti lama diam di pasar, orang biasanya buru-buru menyalahkan harga. Padahal, pengalaman saya melihat ritme listing dari dekat menunjukkan cerita yang lebih kompleks: harga memang penting, tetapi bukan satu-satunya pemicu gerak. Perubahan inventori, perilaku pencari rumah, dan kualitas presentasi listing sama-sama bermain. Itulah kenapa saya cukup sering membaca tren di kanal Listing […]
Ada fase ketika saya mulai sadar bahwa rumah yang terasa menenangkan bukan selalu rumah yang paling besar atau paling mahal, melainkan rumah yang tahu cara bekerja untuk penghuninya. Ketika membaca ulasan Homes & Gardens tentang tren furnitur ruang tamu 2026, saya menangkap satu benang merah yang menarik: rumah yang terasa hidup justru lahir dari perpaduan […]
Rumah yang terasa nyaman sering kali tidak menang karena furnitur paling mahal atau dekorasi paling ramai, melainkan karena cahaya yang jatuh di waktu yang tepat. Saya makin yakin soal itu setelah melihat bagaimana arah desain rumah beberapa tahun terakhir bergerak ke ruang yang lebih hangat, personal, dan terasa lived-in, seperti yang juga tercermin dalam ulasan […]
Tren datang dan pergi, tapi rumah tetap jadi tempat kita pulang—dengan semua kelelahan, harapan, dan rutinitas kecil yang tidak pernah masuk feed. Saya mengikuti diskusi Japandi karena ia menawarkan jawaban yang terasa relevan: tenang tanpa dingin, minimal tanpa hampa. Gaya ini makin sering dibahas media arus utama, salah satunya dalam artikel The Times tentang Japandi […]






