Konflik waris sering bermula dari hal yang “kecil”: satu kalimat di grup keluarga, satu transaksi yang tidak dijelaskan, atau satu asumsi yang dibiarkan berbulan-bulan. Saat konflik sudah panas, semua pihak cenderung defensif—padahal yang dibutuhkan justru struktur. Saya mengikuti praktik mediasi di pengadilan agama karena di situ terlihat jelas bagaimana pihak yang awalnya keras bisa berangsur […]
Tag Archives: etika-bisnis
Reputasi bisnis jarang runtuh karena satu kesalahan besar; lebih sering ia bocor pelan dari komentar, potongan screenshot, dan narasi yang “kelihatan meyakinkan” di linimasa. Pergerakan tafsir hukum juga ikut memengaruhi cara kita merespons, terutama ketika isu menyentuh pencemaran nama baik. Salah satu pembaruan yang saya amati datang dari rilis Mahkamah Konstitusi yang membahas penafsiran ulang […]
Reputasi tidak rusak karena satu komentar; ia retak oleh pola yang dibiarkan. Saya banyak merenungkan itu ketika membaca pembaruan soal pencemaran nama baik dalam artikel Hukumonline yang mengulas perubahan penting di UU ITE 2024. Tulisan ini adalah catatan kerja—bukan teori—tentang bagaimana saya menyusun pagar hukum, playbook komunikasi, dan alat digital untuk menghadapi rumor, trolling, serta […]
Saya percaya konflik waris bukan sekadar hitung-hitungan aset; ini soal merawat hubungan yang tersisa. Dalam beberapa bulan terakhir, saya mencatat makin banyak kabar damai yang tercapai lewat mediator bersertifikat—seperti kasus yang diberitakan oleh Pengadilan Agama Jakarta Barat tentang sengketa waris yang selesai lewat mediasi ahli. Fenomena ini memberi harapan, sekaligus PR: bagaimana memastikan prosesnya benar-benar […]
Di industri properti, satu review bisa menentukan apakah calon pembeli menekan tombol hubungi atau menutup tab. Tahun ini saya makin sering melihat ulasan yang terasa “sempurna”—runtut, manis, namun tanpa detail pengalaman. Fenomena ini bukan sekadar perasaan: sebagaimana diberitakan dalam situs berita New York Post tentang studi yang menyebut hampir seperempat review agen di 2025 ditulis […]






