Reputasi tidak rusak karena satu komentar; ia retak oleh pola yang dibiarkan. Saya banyak merenungkan itu ketika membaca pembaruan soal pencemaran nama baik dalam artikel Hukumonline yang mengulas perubahan penting di UU ITE 2024. Tulisan ini adalah catatan kerja—bukan teori—tentang bagaimana saya menyusun pagar hukum, playbook komunikasi, dan alat digital untuk menghadapi rumor, trolling, serta […]
Tag Archives: etika-bisnis
Saya percaya konflik waris bukan sekadar hitung-hitungan aset; ini soal merawat hubungan yang tersisa. Dalam beberapa bulan terakhir, saya mencatat makin banyak kabar damai yang tercapai lewat mediator bersertifikat—seperti kasus yang diberitakan oleh Pengadilan Agama Jakarta Barat tentang sengketa waris yang selesai lewat mediasi ahli. Fenomena ini memberi harapan, sekaligus PR: bagaimana memastikan prosesnya benar-benar […]
Di industri properti, satu review bisa menentukan apakah calon pembeli menekan tombol hubungi atau menutup tab. Tahun ini saya makin sering melihat ulasan yang terasa “sempurna”—runtut, manis, namun tanpa detail pengalaman. Fenomena ini bukan sekadar perasaan: sebagaimana diberitakan dalam situs berita New York Post tentang studi yang menyebut hampir seperempat review agen di 2025 ditulis […]
Saya sering ditanya: “Apa dampak perubahan UU ITE terhadap bisnis yang sudah berjalan?” Jawaban singkatnya: reputasi digital makin rentan, tetapi juga makin bisa dikelola jika kita disiplin. Perubahan ketentuan pencemaran nama baik dan dinamika penegakan membuat pebisnis perlu membaca ulang strategi komunikasi dan tata kelola kanal online—dari situs perusahaan sampai media sosial staf. Beberapa poin […]
Saya menulis topik ini dengan rasa hormat pada banyak keluarga yang pernah saya jumpai—di ruang tamu, di ruang rapat, maupun di ruang tunggu pengadilan. Situasi waris itu sensitif: ada cinta, kenangan, dan kadang-kadang luka lama. Di 2025, saya melihat semakin banyak upaya damai yang berhasil, termasuk yang diberitakan dalam situs berita Pengadilan Agama Jakarta Barat […]






