Saya pernah melihat proyek EPC terlihat “baik-baik saja” di rapat mingguan, lalu mendadak terguncang karena satu hal kecil: dokumen material tidak traceable, inspeksi terlewat, atau perubahan desain tidak tercatat rapi. Bukan karena timnya tidak pintar—sering kali karena sistemnya tidak disiplin. Ketika membaca ulasan dalam artikel Robere tentang relevansi ISO 9001 di 2025, saya menangkap satu […]
Saya semakin yakin satu hal: “hijau” di proyek konstruksi tidak boleh berhenti di spanduk, render, atau jargon. Ada biaya nyata saat kita mengabaikan limbah—biaya logistik, biaya rework, biaya komplain, dan pada akhirnya biaya reputasi. Dorongan untuk berbenah juga terlihat dari arah kebijakan dan investasi, misalnya dalam situs berita Antara News tentang rencana investasi Indonesia pada […]
Saya melihat gelombang baru proyek waste-to-energy (WtE) mulai masuk ke tahap yang lebih serius: bukan lagi sekadar wacana konferensi, melainkan pembicaraan kapasitas, lokasi, pendanaan, dan jadwal go-live. Sinyal itu makin jelas setelah saya membaca kabar dalam laporan Reuters tentang rencana Danantara meluncurkan proyek waste-to-power, yang menggarisbawahi skala, prioritas kota, serta skema dukungan yang diharapkan menurunkan […]
Saya sering ditanya, “Perlu sampai sejauh itu, Pak, untuk standar ISO?” Jawaban pendeknya: iya, karena konsistensi tidak pernah terjadi kebetulan. Sebuah studi tuntas tentang praktik keberlanjutan dan mutu dalam publikasi ScienceDirect yang menelusuri hubungan kualitas proses dan kinerja operasional perusahaan logistik menegaskan korelasi antara sistem yang disiplin dan hasil yang terukur. Catatan ini saya tulis […]
Saya pernah hampir kehilangan kontrak karena salah tafsir klasifikasi barang. Bukan karena niat lalai, tapi karena asumsi yang terlalu percaya diri. Setelah mencerna pedoman resmi pada laman FAQ Bea Cukai tentang ketentuan kepabeanan, cukai, dan pajak atas kiriman ekspor, saya merapikan cara kerja supaya tidak mengulang kesalahan yang sama. Catatan ini saya bagi agar pelaku […]






